Aku bingung, stres, depresi. Aku gundah gulana memikirkan kalimat apa
yang harus kususun dalam suratku yang terakhir buat dia. Apakah
mesti to the point tanpa berbasa-basi dulu: Neng, besok aku mau bunuh
diri. Jaga baik-baik kesehatanmu!? Ataukah mesti pakai kalimat yang
rada-rada ekstrim misalnya: Neng, besok aku mau bunuh diri, nih! Semua
gara-gara kamu. Awas, setelah aku mati, aku akan gentayangan padamu!?
Sudah berjam-jam lama aku duduk termenung di depan selembar kertas
yang baru tertulis kata ‘salam’ saja.
Aku bukan seorang pujangga yang pandai merangkai kata, meski cuma untuk sepucuk surat. Terus terang, seumur hidup, aku tak pernah berhasil bikin surat, padahal apa yang kulakukan seperti malam ini bukanlah perbuatan yang tak biasa. Berkali-kali aku berniat bikin surat, tapi berkali-kali juga kertas yang kusiapkan malah digambari pendekar yang lagi silat-silatan. Meski begitu, diam-diam aku senang juga karena sewaktu aku menggambar Wiro Sableng itu lah, aku dapat melupakan perasaanku kepadanya, meskipun untuk beberapa menit saja.Tapi kali ini, jangankan dapat melupakan dia, perasaan ini malah semakin menggebu2 kepada dirinya. . .''!!
Bunuh diri…, hmm, cara untuk membuktikan betapa dalamnya cintaku. Aku harus membuat surat perpisahan agar dia menyesal karena sudah mengabaikan perasaanku. Cintaku yang tulus dan suci plus murni dianggap sepi tak berarti.
Dua jam berlalu, aku masih menggaruk-garuk kepalaku. Ku garuk lebih keras sampai-sampai beberapa helai rambut tercabut.
***
malam ini adalah malam terburuk dari sekian banyak malam buruk yang pernah kualami.
malam telah berlalu ,sinar mentaripun telah menampakan dirinya,aku masih saja memikirkan dirinya,aku sangat kesal, yah kesal suratku belum selesai-selesai juga,
karena itu aku terus menggaruk kepala. Aku tak peduli semua rambutku yang
rontok tercabuti. Aku gregetan, keinginan bunuh diri terus merangsek di
hati. Aku ingin mati saat ini juga,itupun kalau bisa.Padahal apalah susahnya
buat mati? Tinggal ambil belati di dapur, lalu ‘cos’ ke dada, matilah
aku, maka selesai sudah urusan.Tapi, dipikir-pikir, rugi banget kalau
aku mati tanpa meninggalkan pesan perpisahan untuk Dia.karna dia tak
akan menyesal, dan semua orang pasti akan menganggap kematianku bukan
karena ingin membuktikan cinta, melainkan karena ‘bosan hidup'’. Oleh karena itulah, aku harus membuat surat perpisahan. Tapi
karena aku tak bisa merangkai kata, lagi-lagi aku cuma bisa menggaruk
kepala. Harus bagaimana lagi agar aku bisa menyusun kalimat yang
menyentuh, yang bisa membuat hati sidia tersayat, yang bisa membuat air
mata dia jatuh bercucuran? Pokoknya, yang bisa menumbuhkan
penyesalan dalam di hati nya ..??
***
Dan hari ini, jam satu, aku berdiri menantang matahari. Aku marah,
kenapa matahari bersinar cerah? Mestinya seluruh alam berduka cita
menghadapi kematianku. Aku sekarang sedang berkecak pinggang di mulut
jurang . Rencana bunuh diriku tidak main-main. Aku tak mau peduli , Aku melihat ke dasar jurang dan meringis memandangi terjalnya bebatuan. Aku tak sanggup membayangkan jika tubuhku terlempar ke sana, tulang belulangku pasti remuk amburadul, kepalaku pasti hancur, darah menyembur.
“Hiii…!” aku merinding takut.
Kalau saja aku punya penyakit jantungan mungkin proses kematianku ini akan mudah; beberapa detik ketika tubuhku meluncur ke jurang, semoga jantungku langsung soak, dan nyawaku terputus sebelum raga yang ringkih ini remuk membentur batu. Itu berarti aku tak perlu lagi merasa sakitnya terlempar ke dasar jurang. Kupikir, betapa enaknya ya kalau seperti itu...??
Aku jadi ingat masa kecilku saat ikut kawan mengaji .
Pernah sang ustad bilang bahwa jasad orang mati itu seperti boneka,
bahwa orang mati sudah kehilangan rasa. Kenapa bisa begitu ? (tanyaku) Ustad
menjawab: karena jiwanya telah terbang meninggalkan jasad? Terbang ke
mana? Menghadap Tuhan. Untuk apa? Untuk ditimbang dosa dan kebaikannya.
Bagi mereka yang beramal banyak, balasannya adalah surga, dan
orang-orang yang banyak dosa niscaya akan diceburkan ke dalam api
neraka. Ha, sedangkan aku belum siap menghadap Tuhan. Terus
terang,dosaku mungkin sudah menggunung saking banyaknya. Apalagi
kematianku nanti karena bunuh diri, pastilah akan berlipat-lipat siksaku
nanti di akherat.Bagaimana, dong? Bingung. Kugaruk kepala, menoleh sebentar ke belakang. Aku malu kalau ada orang yang melihat kelakuanku ...!!
Aku berpikir lagi. Kali ini aku mencoba berpikir lebih jernih. Apa sebenarnya yang telah terjadi padaku? Kenapa harus bunuh diri? Apakah untungnya? Kira-kira begitulah pertanyaan-pertanyaan yang terlintas dalam benakku. Satu hal yang menunjukkan bahwa aku sedang berpikir jernih adalah ketika aku berhenti menggaruk kepala.
Ah, ah, ini cuma lelucon saja, aku mendesah pada akhirnya. Motifku bunuh diri adalah membalas sakit hati padanya, dengan harapan dia akan menyesal karena telah menolak cintaku. Aku gak mau mati. Sekali lagi, aku gak mau mampus dengan sia-sia.
Akhirnya aku mundur beberapa langkah, lalu duduk merenung di bawah pohon Melinjo. Tiada lagi hasrat untuk menggaruk kepala. Aku berpikir; “apakah setelah mati, aku bisa menikmati penyesalannya? Apakah aku bisa gentayangan ke rumahnya? Dan apakah dia akan benar-benar menyesal? Waduh, percuma dong aku mati kalau tidak bisa menikmati penyesalan kan dirinya yang sudah menolak ku.”
Terbukalah kini pikiranku. Bunuh diri jelas hanya akan menambah rugi, ya di dunia, ya di akherat.
Yeah, lebih baik aku pulang aja dechh.. huhhh
https://www.facebook.com/dikyselalusepi
https://www.facebook.com/kata2galaudikyrikardo
Tidak ada komentar:
Posting Komentar